Kamis, 04 Maret 2021

Menutup Akhir Tahun 2020 dengan Sakit Corona (Part 2)



Assalamualaikum!!

Alhamdulillah, Finally masih diberi waktu lagi untuk mengupdate btercinta tapi jarang diurus ini wkwk.

Oke, jadi, aku akan melanjutkan ceritaku tentang pengalamanku sakit covid-19.

Cerita part 2, akan dimulai dengan kehidupan pasca dinyatakan NEGATIF Covid-19.


Aku akhirnya dijemput oleh keluarga, pada malam harinya dari pusat karantina Covid-19.

Kondisi yang aku rasakan pada saat itu adalah, badanku masih terasa ngilu, sedikit demam, tapi masih bisa jalan - jalan. Lucu ya? Sudah dinyatakan Negatif tetapi gejala - gejala itu masih muncul.

Lalu, sebelum keluar dari pusat karantina, aku diberi surat keluar, tanda bahwa aku sudah bisa dikembalikan ke tengah - tengah masyarakat karena aku tidak lagi berbahaya dengan menularkan virus.

Ngeri - ngeri sedep nggak tuh? Serasa residivis covid-19 wkwkwk

Namun, dibawahnya, diberikan sebuah catatan, meskipun aku negatif, aku diminta untuk tetap melaksanakan karantina mandiri sekali lagi di rumah, selama 8 hari ke depan.

*
Sesampainya di rumah, aku benar - benr takjub dengan kondisi rumahku yang kotor banget. Bekas boks nasi jatah makanan yang diberikan oleh pemerintah sebagai bantuan bagi warga yang terkena covid-19 menumpuk di dapur.

Jadi begitulah teman - teman pembaca yang budiman, rumah yang digunakan sebagai karantina baik mandiri maupun pusat karantina, situasinya selalu kotor. Kenapa? karena untuk membersihkan ruangan sendiri saja kita sebagai pasien teramat lelah, sedangkan jika kita meminta tolong orang lain, untuk membersihkan tentu tidak semudah jika kita sehat. 

Karena yang membersihkan ruangan juga perlu mawas diri, dengan menggunakan baju hasmat full body, masker dan juga goggles, atau kacamata plastik bening, pokoknya persis mirip astronot.

Jadi, kontradiksi ya, di satu sisi, kita diminta untuk selalu higienis, di satu sisi, ketika sakit, bantuan untuk membersihkan rumah juga tidak semudah itu di dapat, bahkan tetangga juga sangat takut ketika mereka ingin memberi sumbangan susu ke rumahku, mereka hanya meletakkannya di depan pagar rumah dan menelepon ponselku, untuk segera mengambilnya di depan rumah.

Ketika aku keluar rumah dan membuka pagar, tetangganya sudah pulang, hiks.

Intinya, aku sesungguhnya menyarankan untuk setidaknya orang - orang yang melakukan karantina mandiri, diberi bantuan untuk membersihkan lingkungan mereka, tentu saja yang membersihkan rumah juga sudah di bekali peralatan tempur yang mumpuni.

Sungguh, negara ini masih harus berjuang sangat panjang untuk menyelesaikan masalah pandemi ini.
*
Lalu, akhirnya, aku yang kata orang jawa istilahnya, tidak srantan, keesokan paginya, beres - beres rumah. karena aku tidak bisa melihat rumahku kotor begini, sedangkan dua adikku lainnya juga masih positif, dan kedua orangtuaku juga hampir setiap hari merasa demam terus, meskipun mereka negatif, tapi tentu saja mereka kontak erat dengan adik - adikku.

Aku yang merasa diriku sudah negatif, maka berinisiatif untuk membersihkan rumah.

Setelah itu aku menjemur diriku di lapangan depan rumah, mencari sinar matahari, agar imunku tetap baik.
*
Lalu yang terjadi setelahnya, pada siang hari sampai sore harinya, badanku tiba - tiba nyeri kembali di sekujur tubuh, dan demam kembali.

Aku bertanya kepada salah seorang kawanku yang juga punya pengalaman sakit Covid-19 dan berhasil sembuh, Kumaila Hakimah, dia berkata, bahwa sakit covid itu sembuhnya memang lama. Dirinya membutuhkan sekitar 2 bulan untuk khirnya pulih sepenuhnya dari Covid.

Statementnya itu yang membuat aku tenang. Aku berpikir ketika badanku kembali diserang ngilu berkepanjangan ini.

Tiba - tiba, malamnya, aku diserang sesak napas berat.

Sampai badanku dingin semua. Punggungku rasanya sakit banget. Aku kesulitan bernapas. Pada saat itu di kotaku sedang di berlakukan PPKM.

Saat itu sudah pukul 9 Malam kurang. Tidak mungkin aku pergi ke rumah sakit. Ingin pergi ke puskesmas dekat rumah untuk minta bantuan oksigen, ditolak, tetapi aku memahami alasan dibalik penolakan itu, karena untuk kasus sesak napas yang dialami penderita Covid-19, hanya rumah sakit rujukan yang berwenang untuk memberikan tindakan.

Disatu sisi, kita semua sudah mahfum bagaimana cara kerja Rumah Sakit yang birokrasi dan administrasinya begitu berbelit - belit. Bisa - bisa, nyawaku lewat sia - sia akibat birokrasi yang ruwet itu.

Sebab itu kejadian juga di saudara perempuan tanteku, ia akhirnya wafat dengan kondisi sesak napas parah akibat Covid-19 yang disertai 2 komorbid. Ia baru saja mendapat pertolongan ketika nafasnya sudah tinggal satu - satu.

Tidak pandemi saja, birokrasi Rumah Sakit sudah ruwet, apalagi di masa pandemi ini, ya makin ruwet lah. Bangsa ini butuh reformasi birokrasi di dunia kesehatan. Sayang, rasa - rasanya jalan menuju itu sangatlah panjang dan terjal.
*
Akhirnya, untuk menangani sesak napasku, akhirnya, orang tuaku membelikan oksigen kaleng portable yang dijual bebas di apotik. Tentu saja harganya lebih mahal dibanding oksigen yang bentuknya tabung seperti di rumah sakit dan bisa diisi ulang, tetapi itu sebanding dengan harga nyawaku bukan?

Akhirnya aku butuh sekitar 2 Minggu untuk pulih dari pasca sesak napas yang sempat datang menyerang 3 kali di hidupku.

Aku akhirnya menghabiskan setidaknya 8 kaleng oksigen portable. Selama itu, aku tidak mampu berkegiatan yang terlalu banyak dan terlalu lelah, karena, semakin banyak aku bergerak, maka semakin banyak juga oksigen yang dibutuhkan.

Di masa itu juga, aku tidak mampu makan banyak, karena proses mencerna makanan juga membutuhkan oksigen yang banyak. Sedangkan, paru paruku tidak mampu untuk menarik oksigen lebih banyak.

Awalnya, kukira aku menderita kerusakan paru - paru pasca sembuh dari Covid-19, aku sudah membayangkan, seumur hidup akan bergantung dengan oksigen portable dan tidak lagi bepergian jauh. Tidak bisa apply pekerjaan yang menuntut kerja lapangan.

Pada saat itu, aku merasa hidupku sudah berakhir, aku, gadis single, 26 tahun, pekerja freelance dan memiliki gangguan pada paru - paruku.
*
Melihat aku yang sedikit kehilangan semangat, akhirnya orang tuaku membawaku ke sebuah klinik dokter umum langganan saudara sepupuku dan yang merawat mereka sekeluarga ketika mereka juga terserang Covid-19.

Kata dokter umum tersebut, tidak, ini bukan gangguan paru - paru atau serangan Covid-19 kedua. Ini hanya masih adanya suatu bakteri yang masuk ke dalam paru - paruku yang masuk bersamaan dengan virus Covid-19.

Virusnya mati akibat antibodiku dan juga dilawan sama bakterinya, mereka berebut inang di tubuhku.

Namun, bakteri tidak bisa mati hanya dengan antibodi, dia butuh antibiotik.

Maka aku diresepkan 20 biji antibiotik untuk diminum sampai habis, sehari sekali.

Alhamdulillah, setelah obatnya habis, aku merasa jauh lebih enak, tidak lgi mudah lelah, dan penggunaan oksigen juga semakin berkurang.

Penggunaan oksigen kubutuhkan jika dan hanya jika aku stres dan banyak pikiran saja.

Jadi, ya, aku masih stok setidaknya 3 kaleng oksigen di kamarku.
*
Semoga cerita pengalamanku sakit Covid ini, bisa diambil pelajaran bagi semua pembaca ya. Tidak mudah melawan Covid tetapi kita harus tetap berjuang. Semoga kedepan, kita semua, diberi kesehatan, amin.
*
P.S : Sudah teridentifikasi, virus Covid yang bermutasi dan ditemukan di Inggris, yang jauh lebih cepat menular dari sebelumnya, yang ditemukan di Singapura dan juga jauh lebih mematikan.
*
PERJUANGAN DAN PERLAWANAN MASIH PANJANG YA GUYS, SUNGGUH INI MENGUJI MENTAL KITA SEMUA!!! BERTAHAN DAN JANGAN LENGAH!

 

Minggu, 28 Februari 2021

Menutup Akhir Tahun 2020 dengan Sakit Corona (Part 1)


Assalamualaikum Semua!!

Gimana kabarnya? Semoga semua sehat ya. Alhamdulillah akhirnya aku masih diberi kesempatan untuk update lagi di laman blog pribadiku ini. 

Jadi, aku mau cerita pengalamanku nih, sebuah pengalaman yang sangat berharga banget dan semoga yang membaca tulisanku ini juga akhirnya bisa mengambil pelajaran dari apa yang aku alami ya...

Akhir tahun 2020, saat orang semua bersuka cita merayakan hari raya natal, tentu saja aku dan sekeluarga juga ingin ikut merasakan gegap gempitanya meskipun kami semua adalah keluarga muslim, tapi kami tidak melarang diri kami untuk ikut merasakan suasana meriahnya dan juga tidak mearang diri kami sendiri untuk haram mengucapkan selamat natal kepada saudara - saudara kami yang kristiani.

Demi ikut merasakan gempita suasana itu, kami sekeluarga memilih untuk makan malam di luar pada tanggal 24 Desember. Kami sekeluarga memutuskan untuk makan di sebuah Mall yang cukup sepi dengan pertimbangan agar tidak terlalu berkerumun dengan banyak orang. Restoran pilihan kami adalah sebuah Restoran Jepang dengan menu sejenis Suki - suki an dan grill.

Kami makan sekitar pukul 7 Malam hingga pukul 8 Malam. Pada saat berangkat, kondisiku masih baik - baik saja. Aku masih ceria dengan menjadi penghabis makanan paling banyak.

Sepulang dari Restoran, malamnya, entah mengapa, aku merasa badanku tiba - tiba demam dan juga terasa sangat nyeri di sekujur tubuh. Kalau Mamaku bilang, itu namanya ngilu. Untuk mengatasi badanku yang tidak enak itu, aku mengonsumsi obat penurun panas dan juga antibiotik untuk Thypus. Karena dengan pengalaman yang ada, aku merasa, sepertinya penyakit Thypusku kambuh. Karena ciri - cirinya hampir mirip.

Keesokan harinya, pada tanggal 25 Desember 2020, aku merasa kondisiku makin memburuk, aku tidak memiliki nafsu makan, badanku makin lemas, suhu tubuhku juga bertahan di 37 celcius. 

Hari ketiga, tanggal 26 Desember 2020, aku mulai tidak bisa membedakan mana bau ini dan bau itu. Pada saat itu aku tidak sadar bahwa itu adalah gejala khas covid-19 yaitu anosmia, atau ketidak-mampuan seseorang untuk membaui sesuatu. Atau kehilangan daya penciumannya. Pada saat itu aku merasa, oh ini mungkin influenza biasa. Sebab ketika itu, gejala influenza juga muncul. Hidungku pilek tiada henti. Aku mengasumsikan bahwa ketidak mampuanku membau itu hanyalah bawaan dari sakit influenza tersebut.

Sampai pada akhirnya, tanggal 28 Desember 2020, aku memtuskan untuk tes swab karena kondisiku makin memburuk dan hasilnya keluar pada tanggal 29 Desember 2020 yang menyatakan  bahwa aku positif covid 19.

Tentu saja yang aku rasakan pada saat itu adalah panik dan cemas, mengingat bahwa berita di media tentang covid amat mengerikan. Akhirnya step selanjutnya yang aku lakukan adalah mengabari puskemas terdekat bahwa aku positif terinfeksi covid-19 dan minta bantuan agar aku bisa di karantina di pusat karantina khusus covid-19 agar aku tidak menulari anggota keluargaku yang lain.

Alhamdulillah, prosesnya cukup cepat, tanggal 30 Desember pagi, aku dikabari bahwa aku sudah mendapat kamar di pusat karantina.

Pada 30 desember 2020, siang harinya, aku sudah resmi masuk pusat karantina. Sebelumnya, aku diperiksa dulu dengan dokter jaga yang berada disana, diberi obat antibiotik, antivirus dan juga vitamin.

Namun, aku sendiri juga membawa vitaminku sendiri, jadi, pada saat itu, aku cukup banyak mengonsumsi vitamin.  Ada B Komplek, C, dan E dan imunomodulator merk Imboost.

Tidak lupa mengonsumsi makanan bergizi tinggi protein. Protein amat dibutuhkan bagi pasien covid-19 karena dia adalah bahan utama imun tubuh. Makanan yang di sediakan pusat karantina memang cenderung tinggi protein.

Lauknya berputar antara tempe, tahu, udang, ayam dan juga telur. Tak lupa sayur agar seimbang gizinya. Buahnya juga hampir selalu diberi buah Salak. Jangan salah, meskipun kelihatannya hanya buah Salak, tetapi buah Salak termasuk superfood penambah imunitas tubuh.

Selain itu, kita, pasiennya, mendapat ekstra tiga butir telur rebus dan jamu wedang pokak setiap siang, agar menaikkan imunitas tubuh.

Akhirnya, setelah di rawat sekitar 6 hari, aku akhirnya di nyatakan negatif. Namun masih butuh waktu untuk karantina Mandiri sekitar 8 hari kedepan.

Segini dulu cerita part 1 ku, akan kulanjutkan esok hari ya.

 

Senin, 20 Juli 2020

Movie Review : Susah Sinyal (2017)

Sinopsis Susah Sinyal - Film Terbaru dari Ernest Prakasa yang Bisa ...


DATA FILM

Judul : Susah Sinyal

Tahun Tayang : 2017

Sutradara : Ernest Prakasa

Pemain : Adinia Wirasti, Aurora Ribero, Ernest Prakasa, Refal Hady, Asri Welas, Valerie Thomas

Produksi : Starvision Plus

Durasi : 110 Menit



SINOPSIS

Ellen adalah seorang orangtua tunggal yang berprofesi sebagai pengacara. Ia memiliki seorang anak perempuan bernama Kiara yang diasuh oleh ibu kandungnya, Agatha. Ellen menikah begitu muda sehingga belum sepenuhnya dewasa dan berakhir dengan perceraian. Untuk menghibur hatinya yang luka, ia memutuskan untuk kembali kuliah dan bekerja, sampai akhirnya ia lupa pada kewajiban utamanya sebagai seorang Ibu.


Terlanjur dekat dengan omanya, Kiara cenderung bersikap dingin dengan ibunya, karena merasa tidak di perhatikan, sampai akhirnya ketika omanya meninggal karena sakit, Kiara sering berbuat kenakalan di sekolah hingga di panggil kepala sekolah.


Setelah itu hubungan Ellen dan Kiara teruji sampai akhirnya memutuskan untuk menghabiskan liburan ke Sumba. Apakah perjalanan Ibu dan Anak ini akan bisa merekatkan kembali hubungan mereka berdua, atau malah semakin buruk?


REVIEW

Film ini mengangkat tentang keresahan sang sutradara dan penulis skenarionya, Ernest Prakasa tentang keresahan sebagai orangtua yang hidup di Jakarta. Bagaimana pekerjaan yang padat menyedot hampir seluruh kehidupan manusia tanpa pilih kasih.

Kadang - kadang, bahkan sampai itu bisa memisahkan hubungan dengan keluarga. Seperti isu yang menjadi topik utama di film ini bahwa keluarga adalah segalanya dibandingkan kesibukan karir sekalipun.

Ernest Prakasa berhasil mengemas film ini sesuai keadaan orang tua dan anak - anaknya masa kini. Sehingga tentu saja sangat bisa menyentuh penonton yang memiliki masalah yang serupa. Film ini juga bukan hanya mengemas masalah tetapi juga memberikan solusi yang sangat mudah ditiru bagi orang tua dan anak - anak mereka, sebab dalam film ini melibatkan peran psikolog.

Sayang, bagi saya sendiri, sejujurnya film ini tidak terlalu menyentuh perasaan. Mungkin karena saya tidak terlalu relate dengan isu yang di angkat dalam film ini. Komedi yang disajikan juga cukup segar apalagi penyatuan duet maut komika dari timur, Arie Kriting dan Abdur Arsyad semakin membuat penonton tertawa terpingkal - pingkal.

Inti yang dapat dipetik dari film ini adalah bagaimana pentingnya komunikasi antar orangtua dan anak supaya tidak terjadi jarak diantara mereka meski memiliki kesibukan yang berbeda - beda. Dengan komunikasi pula, bisa menjembatani perbedaan keinginan antar orangtua dan anak sehingga bisa dicari jalan tengah demi kebaikan bersama.


Selasa, 07 Juli 2020

Resensi Film : Dua Garis Biru (2019)



DATA FILM

Judul : Dua Garis Biru

Pemain : Angga Yunanda, Zara Adhisty, Dwi Sasono, Lulu Tobing, Cut Mini, Rachel Amanda, Arswendi Nasution

Sutradara : Gina S Noer

Produksi : Starvision Plus

Durasi : 113 Menit


SINOPSIS

    Bima dan Dara adalah remaja biasa yang sedang duduk di bangku SMA kelas 12 yang sedang jatuh cinta. Dara yang memang pandaidan bermimpi bisa kuliah di korea sedangkan Bima yang biasa - biasa saja masih bingung memutuskan akan kuliah dimana. Sejak mereka resmi pacaran, teman - teman sekelasnya seringkali mengolok - olok mereka sebagai pasangan suami istri.

    Suatu hari saat Bima sedang berkunjung ke rumah Dara setelah pulang sekolah, lalu terjadilah hubungan intim diantara mereka berdua. Sebulan kemudian, Dara ternyata positif hamil. Mengetahui hal tersebut, Bima shock dan memutuskan untuk meninggalkan Dara.

    Kebingungan tersebut akhirnya menuntun kepada suatu pilihan yang di inisiasi oleh Bima agar kandungan Dara di aborsi saja, di sisi lain, Dara menolaknya, ia mulai mencintai calon anaknya.
Masalah semakin rumit dan lebar saat kedua orang tua mereka mengetahui kehamilan Dara dari pihak sekolah lalu memutuskan untuk mengeluarkan Dara dari sekolah.

    Benarkah mereka sudah siap untuk menjadi orang tua dari anak tersebut? Benarkah pernikahan adalah jawaban dari semua persoalan ini? 

RESENSI

    Film ini disutradarai oleh Gina S Noer yang sekaligus menuliskan skenarionya. Sebuah cerita sederhana yang sangat relatable dengan kehidupan remaja masa kini. Film ini juga mengingatkan saya pada film Juno yang bertema sama namun kali ini di balut dengan nuansa yang lebih Indonesia.

    Ketika di film Juno, kedua pasangan muda mudi tersebut memutuskan untuk tidak menikah dan menyerahkan anaknya kepada orang lain untuk di adopsi, Di film ini, akhirnya, anaknya diputuskan untuk di asuh oleh kakek nenek dari pihak Ayahnya, yakni orangtua Bima.

    Film yang sempat jadi kontroversi karena di boikot di beberapa kota, sesungguhnya sebuah film yang menampilkan edukasi yang baik kepada remaja dan juga orangtua. Sebab dalam film ini dibahas banyak hal dari mulai segi kesehatan fisik dan mental bagi pasangan remaja yang terlanjur melakukan hubungan seks diluar nikah. Aborsi tentu bukan jalan keluar sebab beresiko kematian juga bagi sang Ibu, apalagi jika dilakukan bukan dengan tenaga profesional. 

    Selain itu, film ini juga membahas bagaimana sebaiknya keluarga menyikapi masalah ini. Mengelola emosi diri sendiri maupun kepada pasangan ataupun kepada anak mereka. Sebagai pengingat, perempuan yang sedang hamil seharusnya menghindari kondisi stres agar perkembangan bayinya sehat. 

    Dalam film ini, kedewasaan dalam menghadapi suatu masalah terlihat dari orangtua Bima yang meski tergolong keluarga miskin, ia masih mau merawat dan menganggap anak tersebut sebagai cucunya dan berusaha untuk tidak memisahkan anak kandung dari orang tua kandungnya. 

    Di sisi lain, ketidakdewasaan dalam menghadapi masalah ditunjukkan oleh keluarga Dara yang nampak ingin sekali memisahkan Dara dengan anaknya dengan cara mengadopsikan anak Dara kepada saudaranya yang sudah lama menikah dan tidak memiliki anak. Di kepala orangtua Dara adalah semua demi kebaikan Dara tanpa pernah mempertimbangkan apakah di mata Dara berpisah dari anaknya juga hal yang dia inginkan.

    Saya sebagai penonton akhirnya menyimpulkan bahwa selama ini banyak sekali anak - anak yang terlahir dengan kondisi tidak di inginkan bukan hanya karena ketidaksiapan mental dari calon orang tua, tetapi, juga karena terbentur oleh faktor keegoisan keluarga besar atas keinginannya. Padahal dengan kedewasaan emosi, masalah seperti ini bisa teratasi bagi remaja tersebut, juga bagi keluarga remaja. Bila terjadi kejadian seperti ini, yang harus diselamatkan adalah Calon Ibu dan Calon Bayi.

    Disamping itu, film ini juga mengedukasi bahwa kehamilan di usia yang masih sangat muda akan lebih membawa banyak resiko. Sebisa mungkin hindarilah untuk berada pada posisi itu, sebagai contoh dengan menggunakan kondom agar kehamilan dini bisa dicegah.

     Menonton film ini tidak di sarankan jika hanya menonton dari sebagian film saja, karena nanti akan menimbulkan kesalahpahaman sepihak. Film ini sangat bagus untuk dijadikan bahan diskusi.

 


Sabtu, 27 Juni 2020

Resensi Film : Pariban ; Idola Dari Tanah Jawa (2019)




DATA FILM

Tayang : 2019

Sutradara : Andibachtiar Yusuf

Pemain : 
Atiqah Hasiholan, Ganindra Bimo, Rizky Mocil

Produksi : Stayco Media

Durasi : 1 Jam 44 Menit


SINOPSIS


Halomoan Sitorus, atau biasa di panggil Moan adalah laki - laki berdarah Batak, tampan, sukses, digilai banyak wanita, dan sering ganti ganti pacar alias playboy. Meskipun berdarah Batak, tetapi ia besar di Jakarta.

Di usianya yang ke 35 tahun, Moan sudah sangat sukses dengan punya perusahaan sendiri, rumah dan mobil mewah. Namun kehidupan Moan tiba - tiba berubah drastis saat ibunya jatuh sakit sesaat setelah ia melayangkan protes kepada Moan tentang mengapa ia belum juga memutuskan menikah. Sebab, ibunya telah di hujani begitu banyak pertanyaan dengan teman - temannya arisan.

Lalu ibunya meminta Moan untuk pulang ke kampung halaman mereka untuk menemui pariban. Pariban Moan yang bermarga Sitorus adalah Silalahi. Akhirnya demi rasa cintanya pada sang ibu, Moan memutuskan untuk menyetujui permintaan tersebut

Akankah mencari pariban akan menjadi jawaban jodoh Moan di masa datang? Bisakah Moan membawa pariban nya pulang ke rumahnya dan di perkenalkan kepada ibunya?


RESENSI

Film ini secara eksplisit tentu saja ingin mengangkat tentang suku Batak dan kebudayaannya yakni Pariban. Menjadi sebuah pengingat bagi generasi baru suku Batak yang mungkin saja tidak sempat mengenal tanah leluhurnya sebab lahir dan besar di kota lain akibat mengikuti orang tua yang merantau.

Pariban sendiri adalah sebuah kultur yang di miliki oleh suku batak dengan menikahi sepupunya sendiri dari garis keluarga ibu kandung. Kultur inilah yang di angkat dalam film ini. Dalam film ini, di lihatkan juga kehidupan suku batak yang tinggal di sekitar danau Toba. Memperlihatkan juga, bagaimana kegiatan pasar pagi yang berada di pemukiman sekitar danau toba. 

Film ini berusaha memperlihatkan seluruh kebiasaan yang kerap kali di lakukan oleh suku batak pada umumnya, seperti kebiasaan bernyanyi yang di lakukan oleh keluarga batak, setiap kali mereka berkumpul, baik itu dalam berkumpul dalam acara keluarga maupun berkumpul dalam acara sesama anak muda. Satu juga yang amat sangat memikat hati saya sebagai penonton adalah menunjukkan kultur suku batak yang hobi memainkan permainan olahraga catur sebagai cara mereka mengakrabkan diri. belum bisa disebut batak, kalau belum bisa bermain catur.

Selain kebudayaan batak, secara selintas, film ini, juga memperlihatkan beberapa situs pariwisata yang dapat dikunjungi, juga beberapa museum yang bisa di jadikan acuan bagi masyarakat selain batakuntuk bisa belajar tentang kebudayaan batak.

Selain itu tentu saja, film ini adalah film keluarga yang layak di tonton, karena menampilkan bagaimana kasih sayang orang tua kepada anaknya, maupun sebaliknya.


Resensi Film : Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020 | #NKCTHI)



DATA FILM


Tayang : 2020

Sutradara : Angga Dwimas Sasongko

Pemain : Rachel Amanda, Rio Dewanto, Sheila Dara, Donny Damara, Susan Bachtiar, Ardhito Pramono, Oka Antara

Produksi : Visinema Pictures

Durasi :  121 Menit


SINOPSIS : 


NKCTHI berkisah mengenai Angkasa (Rio Dewanto), Aurora (Sheila Dara Aisha), dan Awan (Rachel Amanda) kakak beradik yang hidup dalam keluarga yang tampak bahagia. Setelah mengalami kegagalan besar pertamanya, Awan berkenalan dengan Kale (Ardhito Pramono) seorang cowok eksentrik yang memberikan Awan pengalaman hidup baru, tentang patah, bangun, jatuh, tumbuh, hilang dan semua ketakutan manusia pada umumnya.



Perubahan sikap Awan mendapat tekanan dari orang tuanya. Hal tersebut mendorong pemberontakan ketiga kakak beradik ini yang menyebabkan terungkapnya rahasia dan trauma luka besar dalam keluarga mereka. (Dikutip dari cnnindonesia.com)


RESENSI : 


Film ini memotret bagaimana kehidupan keluarga dengan toxic positivity yang begitu jelas. Sekalipun keluarga mereka utuh, namun masing masing dari anggota keluarganya rapuh. Itu semua terjadi akibat penyangkalan terhadap kehilangan di masa lalu. Penyangkalan itu menimbulkan kebohongan kebohongan lagi untuk menutupi luka di hati.


Apa sih sesungguhnya makna dari toxic positivity? Menurut Psychology Today Toxic positivity adalah sebuah konsep  bahwa seseorang hanya berfokus pada hal hal positif namun menolak apa pun yang dapat memicu emosi negatif. Jadi meskipun yang di ucapkan adalah kalimat positif, tapi tetap akan melukai bukannya malah menyembuhkan. 

Karena pada dasarnya, toxic positivity adalah pikiran positif yang dipaksakan. Kadang kala, sebagai manusia kita perlu untuk merasa bersedih agar lebih seimbang. Agar lebih mengerti bahwa di dunia ini, ada banyak sekali perasaan yang mampu di rasakan oleh manusia. Sehingga setelah mengenal jenis jenis perasaan, yang bisa di petik dari itu adalah bagaimana cara mengatasi emosi itu dengan layak, agar tidak mengganggu keberlangsungan hidup dan karir.


Untuk bisa lepas dari toxic positivity juga perlu keikhlasan dari sang pelaku agar paham bahwa tidak segala hal di dunia ini harus selalu terkontrol oleh manusia. Adakalanya kita harus pasrah kepada takdir dan sang maha penguasa untuk membiarkan yang seharusnya terjadi. Berhenti menyangkal bahwa tidak terjadi apa - apa adalah jalan terbaik untuk menghentikan toxic positivity. 


Film ini juga menyajikan gambar sudut sudut kota Jakarta yang lain daripada yang lain. Yakni kegiatan di pasar yang terletak di gang kecil, warung makan di gang kecil, sesuatu yang tidak mewah tetapi tidak juga kumuh. Juga akhirnya saya mengerti bahwa Gultik itu bukanlah Gulai Tikus tetapi gulai tikungan. 

Senin, 15 Juni 2020

Resensi Film : Something In Between (2018)





Data Film

Tayang : 2018

Sutradara : Asep Kusnandar

Pemain : 
Jefri Nichol, Amanda Rawles, Junior Liem, Slamet Rahardjo, Yayu Unru, Naufal Samudera.

Durasi : 1 Jam 40 menit

Produksi : Rapi Films

SINOPSIS

Gema (Jefri Nichol) menyukai Maya (Amanda Rawles) si anak pintar yang terdaftar di kelas unggulan, sehingga Gema harus melancarkan serangan PDKT dengan cara yang unik. Untung Gema memang anak yang nyeleneh dan penuh ide.


Ia melibatkan Kepala Sekolah (Slamet Rahardjo) untuk membantunya membantunya pindah  ke kelas Maya, lalu  sang penjaga sekolah (Yayu Unru) yang sangat akrab dengannya sehingga menjadi tempat curhatnya. 


Gema, juga di dukung penuh oleh sahabatnya yang bernama Surya (Junior Liem). Sayangnya, Gema memiliki saingan kakak kelas bernama Raka (Naufal Samudera) yang juga sangat mencintai Maya. 


Di tengah tengah persaingan sengit tersebut dan gigihnya usaha Gema, akhirnya Maya mulai jatuh hati. Di saat mereka berdua mulai saling tertarik dan merencanakan masa depan mereka tiba - tiba kecelakaan terjadi hingga membuat mereka berpisah karena maut.


Namun, berkat janji yang mereka ucapkan sebelumnya untuk saling setia dan selalu bersama, membuat kisah cinta mereka berlanjut dan melibatkan Abi dan Laras, apa hubungan mereka dengan Gema dan Maya? Lalu, apakah mereka tetap akan bersatu melalui reinkarnasi?


RESENSI


Film tentang cinta anak muda memang sudah banyak jenisnya, tetapi yang mengikutsertakan tentang cinta sejati hingga reinkarnasi mungkin hanya film ini.


Film ini, seolah memberi harapan baru bahwa di sudut belahan dunia ini masih ada yang namanya "cinta sejati" bahkan apabila ia belum terwujud di suatu masa kehidupan, ia akan bereinkarnasi hingga cinta itu mewujud sesuai takdir.


Namun sebagai penonton saya merasa cerita yang ringan ini menjadi tidak masuk akal karena seharusnya penggambaran tokoh yang tidak berbeda antar usia. Tidak ada perbedaan signifikan antara tokoh saat remaja ataupun dewasa kalau hanya berubah secara penampilan saja. 


Sesungguhnya, sebagai penonton saya sangat terganggu dengan cerita anak SMA yang sudah mengucapkan janji sehidup semati. Terlalu berlebihan.


Kalau memang tujuannya untuk menandingi film Dilan, seharusnya elemen itu tidak usah di masukkan. Cukup cerita anak SMA yang ringan, indah dan manis saja.