Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Juni 2021

Movie Review : Trinity, The Nekad Traveler (Part 1)







DATA FILM


Judul : The Nekad Traveler (Part 1)

Tahun Tayang : 2017

Sutradara : Rizal Mantovani

Pemain : Maudy Ayunda, Hamish Daud, Rachel Amanda, Anggika Bolsterli, Babe Cabita, Ayu Dewi

Produksi : Starvision Plus

Durasi : 110 Menit


SINOPSIS

Film Trinity, The Nekad Traveler mengisahkan Trinity adalah seorang pegawai kantoran yang memiliki hobi traveling. Selain bekerja di kantor, Trinity juga mengelola situs blog nya yaitu naked-traveling.com untuk menuangkan semua perjalanan dan pengalamannya melalui tulisan. Namun hobi Trinity yang suka jalan-jalan sering berbenturan dengan keadaan uangnya yang pas-pasan, karena dia hanya mengandalkan uang yang dia sisihkan dari gaji menjadi seorang pegawai biasa. Bahkan, tak jarang Trinity sering ditegur oleh bosnya karena sering mengambil jatah cuti untuk berlibur.

 

Ketika Harpitnas (istilah dari Hari Kejepit Nasional) datang, Trinity sangat memanfaatkan momen itu untuk liburan. Bersama dengan dua sahabatnya yang memiliki hobi serupa, Nina dan Yasmin, beserta sepupunya, untuk berlibur bersama. Namun, sebagai orang tua Trinity, Bapak dan Mama selalu bertanya mengenai jodoh dan keseriusan menjalin hubungan. Tetapi Trinity selalu berdalih bahwa dia akan mencari jodoh apabila bucket list nya telah terwujud. Bucket list Trinity berisikan hal-hal yang harus dia lakukan sebelum tua dan kebanyakan isinya mengenai jalan-jalan.

 

Suatu hari saat Trinity sedang melakukan traveling, dia bertemu dengan Paul (diperankan oleh Hamish Daud). Dia adalah seorang fotografer sekaligus traveler.  Trinity juga sempat merasa tertarik dengannya. Namun dengan hobi keduanya sebagai traveler, apakah hubungan itu akan terus berlanjut? Lantas berhasilkah Trinity mewujudkan seluruh impiannya di bucket list?


REVIEW

Bagi saya, film ini mengangkat isu yang tidak biasa, tentang mengenali diri sendiri dan mendengarkan suara hati diri sendiri. Terutama tentang mengenali diri bagi setiap perempuan. Perempuan sebagaimana kita kenal selama ini, yang tumbuh dalam budaya patriarki yang kuat, selalu dipandang sebelah mata jika memiliki keinginan yang kuat. Mereka akan menerima ucapan miring , apalagi sih yang mau kamu cari? Memangnya ini kurang? Jadi perempuan kok banyak maunya. 

Perempuan yang terlalu mandiri dianggap tidak normal dan tidak sesuai kodratnya. Perempuan seharusnya diam, pasrah dan menurut saja. Perempuan tidak pantas untuk mandiri, perempuan sebaiknya harus selalu dilindungi oleh lelaki.

Sedangkan film ini mengangkat kisah nyata yang telah dibukukan tentang seorang traveler perempuan yang sangat mandiri dan juga punya keinginan yang kuat, yang tidak begitu saja mau dipaksa menikah setelah dewasa.

Bagi Trinity, tokoh utama film ini, perjalanannya bukan sekedar menghabiskan uang dan bergaya saja, dalam perjalanannya dia menemukan banyak kenalan baru, ia belajar banyak hal baru di tempat yang ia kunjungi, dalam perjalanannya juga ia memiliki banyak waktu untuk mengenal tentang dirinya lebih jauh, mendengarkan apa keinginan dirinya yang dilakukan murni untuk dirinya sendiri, bukan semata menyenangkan orang lain atau hanya mengikuti adat yang sudah berjalan, dia sedang berusaha mencintai dirinya sendiri.

Dengan kita bisa mencintai diri sendiri, maka itu satu langkah bagus yang patut diapresiasi karena artinya kita telah mengenali diri kita sendiri secara utuh. Kita mengerti apa yang baik untuk kita saat ini dan kemudian hari. Kita tidak akan terjebak arus, kita memiliki prinsip dan itu penting bagi setiap perempuan.

Setelah mengenali diri sendiri, maka akan muncul rasa bahagia dalam diri. Sebelum seorang perempuan memutuskan untuk bahagia bersama orang lain, ia harus bisa bahagia dengan dirinya sendiri terlebih dahulu. Kondisi yang seperti ini akan memunculkan kemandirian, kita tidak bergantung pada orang lain untuk merasa bahagia, kita bisa bahagia karena diri kita sendiri.

Dalam film ini, scene yang paling mengharukan dan membekas di hati adalah ketika Trinity mengerti bahwa Paul bukanlah tujuannya saat ini, bahwa masih banyak yang ingin ia raih. Situasi yang amat sulit seperti ini, dimana seorang perempuan harus memilih adalah situasi yang sangat penting. Memilih itu adalah hak setiap laki - laki dan perempuan, perempuan dan laki - laki itu setara. Di posisi genting inilah prinsip seorang perempuan dibutuhkan, dan prinsip hanya akan muncul jika seorang perempuan sudah mengenali secara utuh dirinya sendiri, apa yang menjadi keinginan dan prioritasnya.

Film ini sungguh sangat layak tonton berkali - kali selain karena pesan tersirat yang termuat di film ini, saya sangat suka dengan latar tempat yang disuguhkan, dari mulai Lampung, Nusa Tenggara, Makassar dan Filipina sampai Maldives. Sekaligus cuci mata secara gratis :)

Seperti biasa, akting Maudy Ayunda sama sekali tidak mengecewakan. Film ini asli rekomendasi banget!

Minggu, 28 Februari 2021

Menutup Akhir Tahun 2020 dengan Sakit Corona (Part 1)


Assalamualaikum Semua!!

Gimana kabarnya? Semoga semua sehat ya. Alhamdulillah akhirnya aku masih diberi kesempatan untuk update lagi di laman blog pribadiku ini. 

Jadi, aku mau cerita pengalamanku nih, sebuah pengalaman yang sangat berharga banget dan semoga yang membaca tulisanku ini juga akhirnya bisa mengambil pelajaran dari apa yang aku alami ya...

Akhir tahun 2020, saat orang semua bersuka cita merayakan hari raya natal, tentu saja aku dan sekeluarga juga ingin ikut merasakan gegap gempitanya meskipun kami semua adalah keluarga muslim, tapi kami tidak melarang diri kami untuk ikut merasakan suasana meriahnya dan juga tidak mearang diri kami sendiri untuk haram mengucapkan selamat natal kepada saudara - saudara kami yang kristiani.

Demi ikut merasakan gempita suasana itu, kami sekeluarga memilih untuk makan malam di luar pada tanggal 24 Desember. Kami sekeluarga memutuskan untuk makan di sebuah Mall yang cukup sepi dengan pertimbangan agar tidak terlalu berkerumun dengan banyak orang. Restoran pilihan kami adalah sebuah Restoran Jepang dengan menu sejenis Suki - suki an dan grill.

Kami makan sekitar pukul 7 Malam hingga pukul 8 Malam. Pada saat berangkat, kondisiku masih baik - baik saja. Aku masih ceria dengan menjadi penghabis makanan paling banyak.

Sepulang dari Restoran, malamnya, entah mengapa, aku merasa badanku tiba - tiba demam dan juga terasa sangat nyeri di sekujur tubuh. Kalau Mamaku bilang, itu namanya ngilu. Untuk mengatasi badanku yang tidak enak itu, aku mengonsumsi obat penurun panas dan juga antibiotik untuk Thypus. Karena dengan pengalaman yang ada, aku merasa, sepertinya penyakit Thypusku kambuh. Karena ciri - cirinya hampir mirip.

Keesokan harinya, pada tanggal 25 Desember 2020, aku merasa kondisiku makin memburuk, aku tidak memiliki nafsu makan, badanku makin lemas, suhu tubuhku juga bertahan di 37 celcius. 

Hari ketiga, tanggal 26 Desember 2020, aku mulai tidak bisa membedakan mana bau ini dan bau itu. Pada saat itu aku tidak sadar bahwa itu adalah gejala khas covid-19 yaitu anosmia, atau ketidak-mampuan seseorang untuk membaui sesuatu. Atau kehilangan daya penciumannya. Pada saat itu aku merasa, oh ini mungkin influenza biasa. Sebab ketika itu, gejala influenza juga muncul. Hidungku pilek tiada henti. Aku mengasumsikan bahwa ketidak mampuanku membau itu hanyalah bawaan dari sakit influenza tersebut.

Sampai pada akhirnya, tanggal 28 Desember 2020, aku memtuskan untuk tes swab karena kondisiku makin memburuk dan hasilnya keluar pada tanggal 29 Desember 2020 yang menyatakan  bahwa aku positif covid 19.

Tentu saja yang aku rasakan pada saat itu adalah panik dan cemas, mengingat bahwa berita di media tentang covid amat mengerikan. Akhirnya step selanjutnya yang aku lakukan adalah mengabari puskemas terdekat bahwa aku positif terinfeksi covid-19 dan minta bantuan agar aku bisa di karantina di pusat karantina khusus covid-19 agar aku tidak menulari anggota keluargaku yang lain.

Alhamdulillah, prosesnya cukup cepat, tanggal 30 Desember pagi, aku dikabari bahwa aku sudah mendapat kamar di pusat karantina.

Pada 30 desember 2020, siang harinya, aku sudah resmi masuk pusat karantina. Sebelumnya, aku diperiksa dulu dengan dokter jaga yang berada disana, diberi obat antibiotik, antivirus dan juga vitamin.

Namun, aku sendiri juga membawa vitaminku sendiri, jadi, pada saat itu, aku cukup banyak mengonsumsi vitamin.  Ada B Komplek, C, dan E dan imunomodulator merk Imboost.

Tidak lupa mengonsumsi makanan bergizi tinggi protein. Protein amat dibutuhkan bagi pasien covid-19 karena dia adalah bahan utama imun tubuh. Makanan yang di sediakan pusat karantina memang cenderung tinggi protein.

Lauknya berputar antara tempe, tahu, udang, ayam dan juga telur. Tak lupa sayur agar seimbang gizinya. Buahnya juga hampir selalu diberi buah Salak. Jangan salah, meskipun kelihatannya hanya buah Salak, tetapi buah Salak termasuk superfood penambah imunitas tubuh.

Selain itu, kita, pasiennya, mendapat ekstra tiga butir telur rebus dan jamu wedang pokak setiap siang, agar menaikkan imunitas tubuh.

Akhirnya, setelah di rawat sekitar 6 hari, aku akhirnya di nyatakan negatif. Namun masih butuh waktu untuk karantina Mandiri sekitar 8 hari kedepan.

Segini dulu cerita part 1 ku, akan kulanjutkan esok hari ya.

 

Sabtu, 27 Juni 2020

Resensi Film : Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020 | #NKCTHI)



DATA FILM


Tayang : 2020

Sutradara : Angga Dwimas Sasongko

Pemain : Rachel Amanda, Rio Dewanto, Sheila Dara, Donny Damara, Susan Bachtiar, Ardhito Pramono, Oka Antara

Produksi : Visinema Pictures

Durasi :  121 Menit


SINOPSIS : 


NKCTHI berkisah mengenai Angkasa (Rio Dewanto), Aurora (Sheila Dara Aisha), dan Awan (Rachel Amanda) kakak beradik yang hidup dalam keluarga yang tampak bahagia. Setelah mengalami kegagalan besar pertamanya, Awan berkenalan dengan Kale (Ardhito Pramono) seorang cowok eksentrik yang memberikan Awan pengalaman hidup baru, tentang patah, bangun, jatuh, tumbuh, hilang dan semua ketakutan manusia pada umumnya.



Perubahan sikap Awan mendapat tekanan dari orang tuanya. Hal tersebut mendorong pemberontakan ketiga kakak beradik ini yang menyebabkan terungkapnya rahasia dan trauma luka besar dalam keluarga mereka. (Dikutip dari cnnindonesia.com)


RESENSI : 


Film ini memotret bagaimana kehidupan keluarga dengan toxic positivity yang begitu jelas. Sekalipun keluarga mereka utuh, namun masing masing dari anggota keluarganya rapuh. Itu semua terjadi akibat penyangkalan terhadap kehilangan di masa lalu. Penyangkalan itu menimbulkan kebohongan kebohongan lagi untuk menutupi luka di hati.


Apa sih sesungguhnya makna dari toxic positivity? Menurut Psychology Today Toxic positivity adalah sebuah konsep  bahwa seseorang hanya berfokus pada hal hal positif namun menolak apa pun yang dapat memicu emosi negatif. Jadi meskipun yang di ucapkan adalah kalimat positif, tapi tetap akan melukai bukannya malah menyembuhkan. 

Karena pada dasarnya, toxic positivity adalah pikiran positif yang dipaksakan. Kadang kala, sebagai manusia kita perlu untuk merasa bersedih agar lebih seimbang. Agar lebih mengerti bahwa di dunia ini, ada banyak sekali perasaan yang mampu di rasakan oleh manusia. Sehingga setelah mengenal jenis jenis perasaan, yang bisa di petik dari itu adalah bagaimana cara mengatasi emosi itu dengan layak, agar tidak mengganggu keberlangsungan hidup dan karir.


Untuk bisa lepas dari toxic positivity juga perlu keikhlasan dari sang pelaku agar paham bahwa tidak segala hal di dunia ini harus selalu terkontrol oleh manusia. Adakalanya kita harus pasrah kepada takdir dan sang maha penguasa untuk membiarkan yang seharusnya terjadi. Berhenti menyangkal bahwa tidak terjadi apa - apa adalah jalan terbaik untuk menghentikan toxic positivity. 


Film ini juga menyajikan gambar sudut sudut kota Jakarta yang lain daripada yang lain. Yakni kegiatan di pasar yang terletak di gang kecil, warung makan di gang kecil, sesuatu yang tidak mewah tetapi tidak juga kumuh. Juga akhirnya saya mengerti bahwa Gultik itu bukanlah Gulai Tikus tetapi gulai tikungan. 

Selasa, 09 Juni 2020

Resensi Film : Mantan Manten (2019)




DATA FILM

Tayang  : 2019

Produksi : Visinema Pictures

Sutradara : Farishad Latjuba

Pemain : Atiqah Hasiholan, Arifin Putra, Tyo                   Pakusadewo, Tutie Kirana.

Durasi  : 1 jam 47 menit.

SINOPSIS

Menceritakan tentang Yasnina (Atiqah Hasiholan) atau Nina, potret wanita urban masa kini. Hidupnya terlihat sempurna. Karierny tengah berada di puncak sebagai manager investasi. Kekasihnya, Surya (Arifin Putra) yang Tampan dan kaya raya pun baru saja melamar dirinya.


Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama, dalam sekejap harta Nina habis tak bersisa. Nina di khianati oleh Iskandar (Tyo Pakusadewo) dalam sebuah kasus investasi. Hidupnya hancur, pernikahannya pun berada diujung tanduk. Pasalnya, selain menipu Nina, Iskandar juga merupakan calon ayah mertuanya.


Harapan muncul saat mantan asisten Nina, Ardy (Martino Lio) mengabarkan dirinya masih memiliki satu properti yang tak kena sita. Properti tersebut adalah villa di Tawangmangu, Jawa Tengah. Villanya tak ikut disita karena belum berpindah nama. Nina pun berangkat ke Tawangmangu untuk mengambil kembali villa miliknya. Namun saat ini villa tersebut masih ditinggali oleh seorang dukun manten.


Dukun manten tersebut bersedia meninggalkan villa apabila Nina menyanggupi syarat yang diajukan. Nina harus menjadi asisten dukun manten. Dapatkah Nina menjalankan tugas dan merebut kembali villa miliknya? (Dikutip dari jateng.tribunnews.com)


RESENSI

Film ini bukan hanya tentang mantan kekasih yang memutuskan lebih dulu menikah tetapi film ini mengajarkan begitu banyak nilai khususnya tentang "ikhlas". Memaknai ikhlas tentu banyak caranya. Salah satu cara yang ditunjukkan dalam film ini adalah memaknainya dengan budaya Jawa yang kental akan ritual. Salah satu ritual yang dilakukan disini adalah "mutih".

Mutih adalah kegiatan berpantang diri terhadap makanan tertentu dan hanya menyantap makanan tertentu juga. Dalam film ini, Yasnina digambarkan melakukan mutih dengan hanya memakan nasi putih tiga suap dan meminum air putih. Selain itu tidak boleh.


Apa sesungguhnya tujuan mutih? Mutih adalah sebuah ritual yang ada pada tatanan budaya Jawa untuk mendetoksifikasi diri dari segala nafsu yang bercokol di hati dan pikiran manusia.


Mengapa sebaiknya manusia ikhlas hingga sampai rela melakukan ritual mutih? Agar supaya manusia dapat menerima kegagalan dan kesulitan dalam perjalanan hidupnya dengan lebih lapang dada. 


Karena apabila manusia hanya di penuhi oleh hawa nafsu, maka sejatinya dia hanya akan bingung dan jalan di tempat saja sehingga bingung bahwa tidak ada jalan keluar bagi masalahnya. Padahal sejatinya, setiap masalah selalu ada jalan keluarnya.


Dalam film ini, Yasnina di gambarkan belum merasa ikhlas atas pengkhianatan yang dilakukan oleh Iskandar, maka dari itu dia malah kebingungan sendiri akibat keinginannya balas dendam semata. Namun, setelah Yasnina merasa ikhlas malah menemukan cara membalas dendam yang jauh lebih elegan dan ampuh yakni menjadi dukun manten bagi Surya mantan tunangannya.

Di film ini lebih di tonjolkan bahwa kekuatan sejati adalah ikhlas ya hati. Dan sekuat - kuatnya perempuan adalah perempuan yang mampu ikhlas. Menjadi perempuan memang sudah seharusnya kuat karena sebagai pengurus rumah tangga dia bertanggung jawab atas kelangsungan rumah tangga dari segala mara bahaya.

Jumat, 05 Juni 2020

Resensi Film : Hijab (2015)

 

 

DATA FILM

Judul               : Hijab

Sutradara         : Hanung Bramantyo

Durasi              : 1 jam 42 menit

Pemain             : Zaskia Adya Mecca, Carissa Puteri, Tika Bravarani, Natasha Rizki,

               Mike  Lucock, Nino Fernandez, Omesh, Dion Wiyoko

Tahun tayang    : 2015


SINOPSIS

Bia, Tata, Sari, dan Anin merupakan sahabat yang rutin mengadakan arisan diikuti suami dan pacar mereka. Ketiga dari mereka, kecuali Anin, hidup sebagai ibu rumah tangga dan juga mengenakan hijab karena alasan berbeda.

 

Bia (diperankan oleh Carissa Putri) mulai berhijab karena mengikuti seminar peningkat iman. Karena merasa salah kostum di hari kedua seminar dia memutuskan untuk datang mengenakan hijab. Tidak disangka, saat masuk ke tempat seminar dia disambut gembira oleh pembicara dan para peserta, bahkan ada yang membuat video dirinya dan reaksi orang-orang yang kemudian jadi viral. Sejak saat itu, dia dipanggil sebagai ‘Gadis Hidayah’ dan mendesain baju serta hijabnya sendiri agar nyaman dipakai.

 

Awalnya, Sari (diperankan oleh Zaskia Adya Mecca) mengenakan hijab untuk belajar cara berbisnis barang-barang impor dari Arab. Dalam usahanya itu, dia bertemu dengan Gamal (diperankan oleh Mike Lucock) yang memiliki keturunan dan adat Arab. Setelah menikah dengan Gamal, Sari mulai mengenakan hijab syar’i dan tidak melanjutkan bisnisnya. Sedangkan Tata (diperankan oleh Tika Bravani), mengenakan hijab untuk menutupi botak di tengah kepalanya. Anin (diperankan oleh Natasha Rizki) adalah satu-satunya dari mereka yang tidak berhijab dan belum menikah. Walaupun begitu, pacarnya, Chaky (diperankan oleh Dion Wiyoko) ikut turut menghadiri acara arisan dia dengan ketiga temannya.

 

Mereka bertekad memulai bisnis fashion karena Gamal berpendapat kalau arisan yang mereka adakan merupakan arisan suami karena uang yang digunakan mereka diberi dari suami. Ucapan Gamal ini membuat mereka berempat bertekad memulai bisnis fashion. Dengan bantuan sosial media dan modal dari teman Mama Anin, bisnis yang mereka kembangkan mulai terkenal dan sukses bahkan berhasil membuka butik sendiri. Akan tetapi, Sari dihadapi kenyataan bahwa suaminya melarang dia bekerja. Begitu juga Tata yang karena kesibukannya mengurusi bisnis jadi melupakan tugasnya sebagai ibu. Suami Bia (diperankan oleh Nino Fernandez) juga merasa dirinya terancam karena kesuksesannya. Sedangkan, Anin terbutakan impiannya akan segala sesuatu mengenai Paris hingga melupakan teman-temanya yang dilanda masalah.

 

Apakah dengan bisnis yang mereka mulai ini membuat persahabatan dan rumah tangga mereka hancur? (Dikutip dari viu.com)

 

RESENSI

            Pada awalnya, aku berpikir bahwa ini hanya sekedar film yang menceritakan kisah tentang perjalanan hijrah perempuan dari yang tidak berjilbab menjadi berjilbab. Manakala cerita yang seperti itu sudah amat sangat mainstream di pasaran dan lama kelamaan tidak lagi menarik. Namun, melihat siapa sutradaranya, hati kecil ini berkata, tentu ini bukan film biasa, pasti ada pesan baik tersirat maupun tersurat yang ingin di sampaikan, apalagi pemainnya juga tidak bisa di pandang sebelah mata, lalu aku mencoba googling, dan voila! Aku menemukan beberapa artikel yang mengabarkan berita bahwa film hijab di boikot oleh sebagian umat muslim yang merasa terprovokasi karena hanya menonton trailer filmnya saja. Dimana, meskipun judul filmnya hijab, tetapi tetap dibalut oleh kehidupan ibukota yang glamor dan juga berdekatan pula dengan minuman memabukkan. Padahal sejatinya, inilah yang memang ingin di angkat oleh sang sutradara, kehidupan para muslimah di kota urban yang dalam konteks film kali ini adalah ibukota Jakarta. Bila berbicara tentang kota Jakarta tentu yang terlintas adalah kehidupan malam dan bebasnya yang mudah di akses. Sutradara film ini, Hanung Bramantyo ingin menyampaikan sebuah pesan anti – mainstream, pesan nilai kehidupan yang tidak bisa di amini oleh semua pihak umat muslim tentang kehidupan muslimah urban Jakarta dalam memaknai hijab dalam hidup mereka.

            Pertama kali menonton filmnya, aku hanya sekedar menikmati filmnya, kedua kali menonton, aku mulai bertanya, tentang perbedaan berbagai jenis hijab yang di kenakan oleh perempuan indonesia, dari mulai hijab jenis turban, hijab jenis syari, hijab jenis bergo dan lain – lainnya yang sangat fashionable.

Setelahnya aku menonton video podcast milik Deddy Corbuzier yang tayang pada 15 Januari 2020 berjudul “Kontroversi Jilbab, Ibu Sinta Nuriyah mengenang Gus Dur”. Dalam video tersebut, aku menemukan perbedaan mendasar apa arti hijab dan jilbab. Jilbab adalah penutup yang terbuat dari benda tipis seperti kain, sedangkan hijab adalah penutup yang terbuat dari benda keras seperti kayu. (Dalam hati aku sendiri sesungguhnya bertanya, mengapa orang – orang sekarang lebih menyukai menggunakan istilah hijab ya?) Di video itu pula di jelaskan bahwa apabila mengajarkan agama itu boleh – boleh saja menggunakan pendekatan budaya. Contohnya adalah walisongo dan ternyata metode pendekatan itu berhasil. Video ini berhasil menguatkan keyakinanku bahwa hijab (disini aku menggunakan istilah hijab karena mengikuti judul film nya saja ya, meskipun sesungguhnya makna yang ku maksud adalah kain penutup kepala.) bisa memiliki bentuk yang berbeda – beda itu karena adanya pengaruh dari budaya.

Lalu, setelah nonton filmnya untuk yang ketiga kali, aku mengerti bahwa, di Indonesia kini, berhijab bukan lagi milik orang yang agamanya sudah baik saja, tetapi hijab adalah fenomena baru di kalangan masyarakat masa kini yang menggantikan keberadaan sanggul dan konde. Hijab adalah milik semua muslimah, karena dengan menggunakan hijab akan membuat dirinya merasa mampu memahami agama dengan lebih baik lagi. Jadi, bisa disimpulkan bahwa masyarakat yang menggunakan hijab akan memulai awal langkah hijrahnya dengan merubah penampilan menggunakan hijab.

Apabila muncul fenomena bahwa perempuan berhijab tetapi kok masih begini dan masih begitu ya mohon dimaklumi, karena mereka juga sedang dalam proses pada sebuah perjalanan baru, bila ditemukan kesalahan itu wajar, yang penting, setelah kesalahan tersebut, harus berusaha memperbaiki diri, bukan malah sengaja menjerumuskan diri.

            Itu semua tercermin dalam tiap adegan demi adegan, yang ada di film hijab besutan sutradara hanung bramantyo. Berhijab itu bukan akhir, tetapi ia adalah awal dan proses itu sendiri dalam kehidupan. Seberapa panjang atau pendeknya proses tentu tergantung masing – masing manusia. Semua ada tentu untuk menguji kemantapan hati manusia itu sendiri. Apakah ia akan tetap menggunakan hijabnya dan tetap berpegang teguh pada prinsip awalnya menggunakan hijab yakni langkah awal dalam berhijrah menjadi lebih baik atau tidak.

            Sedang bagi saya sendiri, ada satu makna tersirat khusus bahwa menggunakan hijab tak serta merta merubah diri kita serupa dengan orang arab atau malah berusaha mearabisasi diri kita dengan sengaja meninggalkan kebudayaan kita sendiri dan mengikuti semua budaya arab. dan mudah menyalahkan muslimah yang hijabnya dan kehidupan setelah berhijabnya tidak sama seperti dirinya. Hijab, bukan milik orang arab saja, hijab, adalah milik semua perempuan muslimah, hijab adalah identitas seorang perempuan muslimah. Mau menggunakan hijab jenis apapun, selama itu menutupi aurat yang bersangkutan, maka itu sudah cukup.

            Terakhir, sebagai penutup resensi, film ini ingin menjelaskan bahwa sejatinya penampilan seseorang tentu tidak bisa di jadikan tolak ukur bagi keimanan, isi hati dan isi pikiran. Tetapi dari penampilan juga lah, seseorang mampu menjaga batas – batas untuk fisik dan pikirannya sendiri sebagai pijakan awal langkah hijrah berikutnya. Hijab milikmu adalah pijakan awalmu untuk menuju hijrah kehidupan yang selanjutnya. Tidak ada yang benar ataupun salah, segalanya adalah proses, maka biarlah Allah saja yang menentukan hasil atas usaha yang yang kamu lakukan (Mengutip dari ucapan Gus Miftah di video podcast Deddy Corbuzier berjudul “Gus Miftah :Hati – Hati!! Paham Sesat Cross Hijabers Masuk Indonesia!”)