Rabu, 21 Maret 2018

Ibu Puisi



Ibu Puisi
@nuninaklose

ibuku adalah puisi
tubuhnya tersusun dari bait ke bait
begitu liat dan kokoh
aku amat menyukainya

ibuku adalah puisi
dari rusuk bait miliknya
menguar rasa cinta tulus
bagi anak - anaknya

ibuku berkata
menjadi puisi adalah surga
sebab disanalah tersembunyi segala perasaan
dari suka duka benci dan hampa
puisilah persembunyian paling sempurna

maka itu ibuku bercita cita menjadi puisi
ia ingin menjadi tempat mengadu bagi seluruh anak anaknya
tempat sembunyi dari marabahaya dunia

ia puisiku kini, nanti dan selamanya

Surabaya, 19.02.17
12.57

*salah satu tulisan saya yang di submit dalam acara 30 hari bercerita di instagram*

BERGERAK




Bergerak?
Kemana?

Boleh saya bergerak keatas?
Sedang kamu kebawah?
Lalu mereka ke kanan
Tapi dia ingin bergerak ke kiri?
Bagaimana?

Bergerak ya bergerak saja
Tak perlu risau harus kemana
Asal jangan bergerak ditempat saja

Bergeraklah
Supaya kau akan rindu pada yang diam
Supaya kau lebih menghargai makna rehat
Bergeraklah
Agar kamu mengerti itu semua

*salah satu tulisan saya yang saya submit dalam acara 30 hari bercerita di instagram*

Minggu, 18 Maret 2018

Suatu Hari di Bulan Maret



Suatu Hari di Bulan Maret
@nuninaklose

Aku menimang bayangmu bulan ini
Kutimang pelan hingga terlelap pulas
Apakah kamu merindukanku saat ini?

Aku membiarkan kamu yang fana berlari di pikiranku
Sejak bulan lalu hingga bulan ini
Aku risau, apakah sudah kamu dapat makna bahagia?
Maaf, tapi aku belum
Tapi kumohon percaya saja, bila aku sedang berusaha
Meski tertatih tatih

Aku membiarkanmu merayapi mimpiku
Membiarkan kenangan itu menyerbu
Di suatu hari bulan maret
Menimang pelan dan tak melawan

Aku merindukanmu, di suatu hari di bulan maret

Surabaya saat maghrib
11.03.17
18.06

Kutemui Banyak Nama Sepertimu



Kutemui Banyak Nama Sepertimu
@nuninaklose

Entah di tikungan jalan
atau nama toko
mungkin juga nama seorang artis
kerap kutemui namamu yang pasaran

sedetik, dua detik, jantungku serasa berhenti
aku seperti kelabakan
diantara ribuan nama yang ada di bumi, kenapa harus namamu lagi yang kutemui?
aku tahu itu bukan pertanda baik

mereka bilang aku menggilakan diri
mereka bilang aku berlebihan
itu hanya sebuah nama, kan?
apa masalahnya?

masalahnya tetiba aku kerap merindukanmu lagi akhir-akhir ini
dan itu sungguh berat

surabaya, bada'maghrib
11.03.17
18.13

Sabtu, 17 Maret 2018

Tulisan Itu Abadi



"Tulisan itu abadi. Tulislah sesuatu yang menyenangkan di akhirat nanti." (Imam Ali RA)
.
.
Aku menemukan kalimat itu di sebuah buku yang terbuka tanpa sampul, saat kencan berdua dengan papa di toko buku -tempat kencan favorit kita berdua-

Sebagai orang yang selalu bercita - cita jadi penulis beneran atau penulis bayangan (asal jangan jadi kekasih bayangan, apalagi istri simpanan) dan yang aktif di grup kepenulisan yang mana salah satunya aku juga merangkap sebagai admin membuat aku kerap kali menulis (menulis edisi curhat, edisi ngode gebetan/mantan, edisi nyindir yang niat pdkt tapi balik kiri grak, edisi kangen, dll) dalam bentuk apapun puisi, cerpen, cermin, status, caption, bahkan foto.
.
.
Tidak pernah sedikitpun aku ingat bahwa menulis itu abadi. Selamanya akan ada selama tulisan itu tidak dihilangkan oleh si penulis sendiri ataupun orang lain yang merasa keberatan dengan tulisan itu. Dan saat membaca kutipan diatas, ya, aku ketampar keras, plak! plak!

Apa yang diucapkan imam Ali itu benar, menulislah yang membuat kita senang di akhirat nanti, sesuatu yang baik tentu saja, sesuatu yang memberi manfaat untuk orang lain, yang membangkitkan semangat, yang tidak membuat bangsa ini terpecah belah #duhberatdek

Ditambah lagi saat sedang ngepoin akun milik @taqy_malik yang pada salah satu postingannya ia menjelaskan bahwa jangan sekali kali meremehkan tulisan. Kalau aku sih menangkapnya, tulisan kita itu, doa kita, impian kita, jadi akan lebih baik kalau apa yang kita tulis itu ya sesuatu yang baik.
.
.
Semoga kedepannya aku juga semakin semangat menulis yang baik - baik biar tulisanku nanti akan menjadi sesuatu yang menyenangkan di akhirat. Amin.
.
.
Terus menulis ya, semoga suatu hari nanti tulisan kalian akan menjadi sebuah doa yang dikabulkan oleh pemilik hidup.
.
Selamat hari kamis, semoga harimu juga manis ☺
.
.
.
Dedicated to @dwkkrnwn yang diam - diam selalu membaca tulisanku terima kasih, semoga tulisan ini juga termasuk yang kamu senangi 😊

Yang Pantas Ditunggu

Sesuatu yang tepat & baik memang pantas untuk ditunggu (gabykalalo)
.
.
.
Hari ke 5 dalam proses menulis selama 30 hari bercerita, saya merasa sudah mulai kehabisan ide. Padahal saya janji sama @seraniamaudy mau menulis sesuatu tentang dia. Jadilah semalam saya ngintipin satu satu hasil tulisan kawan kawan yang sudah mereka kumpulkan ke @30haribercerita dan saya menemukan satu kutipan yang membekas di hati karya mbak @gabykalalo dan saya rasa ini juga cocok sebagai awalan cerita saya tentang @seraniamaudy
.
.
.
Ya gitu deh ya kalau sudah masuk usia dua puluhan topik topik sudah mulai bergeser ke masalah pasangan hidup, bukan sekedar topik mobile legend saja 😆. Itu juga yang terjadi ketika saya bersua dengan @seraniamaudy beberapa waktu terakhir.
.
.
.
Dia ingin sekali menikah muda, lalu menikah dengan menggunakan upacara pedang pora. See? ketahuan lah ya dia kepingin nikah dengan siapa. Hahaha. Lalu saya menyarankan seorang laki - laki yang kebetulan berprofesi yang nantinya saat ia menikah akan menggunakan prosesi pedang pora. Saya harap sih sudah ada progressnya, dan itu positif. Hihihi.
.
.
.
Balik lagi ke kutipannya mbak @gabykalalo sesuatu yang baik dan tepat itu memang pantas untuk ditunggu. Selama masa menunggu sih tetep terus berdoa saja supaya kita juga lebih yakin dengan apa yang kita tunggu, sebab Tuhan itu maha pembolak balik hati, bukan?
.
.
.
Tulisan ini bukan hanya untuk @seraniamaudy saja, tapi untuk saya sendiri juga, dan untuk teman teman saya yang strong dalam menunggu @r_widay , @nung.noeng, & @ophie_ipho semoga pada akhirnya kesabaran dalam menunggu membuahkan hasil ya.
.
Selamat hari jumat, semoga sayangnya ke saya bertambah ya. 😘

BAJU KUMUR - KUMUR



"Ma, adik Ajeng nggak mau mandi tuh!" lapor mbak Piya, ART ku yang masih berusia 18 tahun. Aku yang masih melipat baju anakku ke dalam lemari hanya bisa tertawa dan geleng - geleng kepala.

"Baju kumur - kumurnya sudah kering, mbak?" tanyaku

"Belum Ma, masih mamel." sahut gadis berambut panjang itu.

"Yoweslah disetrika wae, ben ndang kering!" perintahku pada Piya, ia mengangguk lalu segera pergi ke belakang.

Aku keluar kamar dan segera menemukan bayiku yang berusia 1,5 tahun memakai kaos singlet dan diaper sedang sibuk bermain. Aku menghampirinya,

"Adik Ajeng, mandi yuk sama Mama, udah sore lho, nanti keburu dingin!"

Bayiku yang giginya baru tumbuh 12 buah berhenti dari bermain dan menatapku,

"Tapi Adik pakai baju kumung - kumung..." pintanya dengan sangat disertai bicaranya yang masih cadel. Sehingga, ketika ia ingin menyebutkan baju kumur - kumur, ia pun tidak bisa menirukannya.

Baju kumur - kumur adalah barang kesayangannya, sebuah baju berwarna biru & kinung tanpa lengan dan memiliki capuchon.

"Iya, tuh, bajunya lagi disetrika sama mbak Piya, oke? Abis mandi nanti Adik Ajeng bantuin Mama nyiram bunga ya?" pintaku. Aku segera menggendongnya menuju kamar mandi.

"Oke, ma!" jawab Adik Ajeng sumringah.
_________________________________

Aku membaca sebuah cerpen karya Mama yang ia hadiahkan untuk ulang tahunku yang ke 23. Mama meletakkannya rapi dalam sebuah kotak yang diberi hiasan pita plastik. Selain cerpen, mama memberiku selembar foto lama diriku saat memakai baju kumur - kumur.

Ponselku bergetar. Sebuah chat dari Mama masuk.

"Mbak, kadonya Mama sudah dibuka? Semoga suka ya. Kamu perlu tahu, cintanya Mama tetap sama seperti dulu waktu kamu suka banget pakai baju kumur - kumur, sehingga harus di cuci - paksa kering - pakai - cuci lagi, begitu seterusnya. Tidak akan berubah, selamanya begitu."

Dan aku merasa ada yang leleh di sudut mataku.

(Nina Savitri , 2018)

*Salah satu karya saya yang di submit di acara 30 hari bercerita di instagram